GORONTALO, Jumat (16/10/2026) – Upaya
memperkuat kualitas perencanaan daerah terus dilakukan Pemerintah Provinsi
Gorontalo. Salah satunya melalui peningkatan kualitas para perencana. Tahun ini
Provinsi Gorontalo berhasil mengirimkan 2 orang perwakilan pada kursus singkat
yaitu Ilham Safarudin Maku dan Wiwik Junus Ismail. Short course ini
selenggarakan oleh Australia Awards Indonesia (AAI) bersama Program SKALA
selama 2 pekan di Australia dan diikuti oleh 27 peserta terpilih dari Provinsi
Aceh dan provinsi-provinsi yang ada di bagian timur kawasan Indonesia.
Sebagai tindaklanjut dari kursus tersebut, setiap peserta merancang
proyek yang dapat memberikan dampak pada pembangunan di daerah masing-masing.
Wiwik yang juga Perencana Ahli Madya di Bappeda merancang proyek yang berjudul “Membangun
Tata Kelola Perencanaan Daerah yang Lebih Berkualitas melalui Standarisasi
Verifikasi Rencana Kerja Perangkat Daerah Berbasis GEDSI”. Gagasan ini
disampaikan di depan Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo beserta para perencana
dan para kepala bidang pada Jum’at (16/10/2026).
Pertemuan dibuka langsung oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin
Katili. Dengan suasana hangat, beliau mengajak seluruh peserta menyimak paparan
dengan pikiran terbuka. Beliau menegaskan bahwa ilmu dari kursus tidak boleh
berhenti di sertifikat, melainkan harus kembali menjadi manfaat bagi daerah.
Tak hanya itu, Kepala Bappeda juga menyatakan dukungannya agar konsep ini dapat
diimplementasikan dalam proses perencanaan di Provinsi Gorontalo.
Dalam pemaparannya, Wiwik bercerita tentang persoalan yang kerap muncul
saat verifikasi Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah. Standar yang belum seragam
membuat kualitas dokumen antar perangkat daerah berbeda-beda. Karena itu,
proyek ini mengusulkan model asistensi yang lebih terintegrasi dan mendalam,
dengan standar verifikasi yang memasukkan perspektif Gender Equality, Disability, and
Social Inclusion (GEDSI).
“Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang melihat semua orang,”
demikian semangat yang ingin dibawa. Dengan perspektif GEDSI, program dan
kegiatan daerah diharapkan lebih peka terhadap kebutuhan perempuan, penyandang
disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, sekaligus memberi pegangan yang jelas
bagi para verifikator saat mendampingi perangkat daerah.
Diskusi pun mengalir hangat. Para peserta memberikan masukan, terutama tentang bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam siklus perencanaan tahunan. Dengan dukungan pimpinan dan antusiasme rekan-rekan, gagasan ini diharapkan tidak berhenti di ruang rapat, tetapi tumbuh menjadi praktik nyata bagi perencanaan Gorontalo yang lebih berkualitas dan berpihak pada semua.
GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo terus memperkuat kolaborasi dengan Prefektur Ehime, Jepang, dalam menjajaki penerapan teknologi ramah lingkungan, khususnya untuk pengelolaan air limbah fasilitas kesehatan.
Pada 13–15 Oktober 2026, Daiki Axis
Indonesia melakukan kunjungan ke Gorontalo untuk berdiskusi dengan Bappeda,
Dinas PUPR, dan manajemen RSUD dr. Hasri Ainun Habibie (HAH), sekaligus
meninjau calon lokasi penerapan teknologi Johkasou. Penjajakan ini merupakan
tindak lanjut dari kunjungan Gubernur Gorontalo ke Pusat Otak Nasional pada
Agustus 2026 untuk mempelajari penerapan teknologi tersebut di lingkungan rumah
sakit.
Pada kesempatan kunjungan di Aula Manajemen
RSUD dr. HAH, Daiki Axis Indonesia memaparkan profil perusahaan, regulasi
pengelolaan air limbah, struktur produk, sistem pemeliharaan dan jejaring
layanan, serta pengalaman pelaksanaan proyek. Sementara itu, manajemen RSUD dr.
Hasri Ainun Habibie menyampaikan profil rumah sakit, blueprint pengembangan
fasilitas, dan evaluasi kapasitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang
tersedia saat ini.
Dalam diskusi terungkap bahwa tingkat
utilisasi IPAL eksisting RSUD dr. Hasri Ainun Habibie telah mencapai 87,5
persen, dengan sisa kapasitas sekitar 11 m³. Kondisi ini menjadi perhatian
seiring rencana operasionalisasi gedung baru lima lantai yang akan meningkatkan
kapasitas rumah sakit menjadi total 318 tempat tidur.
Menindaklanjuti hasil pembahasan,
Pemerintah Provinsi Gorontalo akan mengkaji kebutuhan kapasitas pengolahan air
limbah, kesesuaian teknis penerapan Johkasou, pemenuhan ketentuan lingkungan,
serta kebutuhan investasi dan pemeliharaan. Hasil kajian tersebut akan menjadi
dasar penyusunan rekomendasi dan penentuan langkah implementasi yang sesuai
dengan kebutuhan rumah sakit.
Melalui kolaborasi Gorontalo–Ehime dan penjajakan bersama Daiki Axis Indonesia, Pemerintah Provinsi Gorontalo mendorong pemanfaatan teknologi yang berbasis kebutuhan, terukur secara teknis, dan berkelanjutan. Fokus selanjutnya adalah memastikan bahwa setiap keputusan penerapan teknologi didukung hasil kajian kelayakan, perhitungan kapasitas yang memadai, serta rencana operasional dan pemeliharaan yang jelas, sehingga peningkatan layanan kesehatan dapat berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan.
GORONTALO, 20 OKTOBER 2026 – Dalam rangka mendorong penguatan budaya inovasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo serta meningkatkan kualitas dan keberlanjutan inovasi daerah, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) melaksanakan kegiatan presentasi dan penilaian bagi inovator terpilih pada Inovasi Daerah Awards Tingkat Provinsi Gorontalo Tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Inovasi Berdampak, Gorontalo Maju” ini diselenggarakan pada hari Selasa, 20 Oktober 2026 di Manna Hall Kota Gorontalo.
Dalam laporan panitia yang disampaikan oleh Sekretaris Bappeda
Provinsi Gorontalo, Aisa Ibrahim menjelaskan secara mendalam mengenai maksud
dan tujuan dari pelaksanaan ajang ini. Maksud utama dari kegiatan ini adalah
untuk memberikan ruang apresiasi serta motivasi kepada Aparatur Sipil Negara
(ASN) dan Perangkat Daerah agar terus menciptakan pembaharuan dalam tata kelola
pemerintahan, pelayanan publik, maupun bentuk inovasi lainnya. Selain itu,
kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa inovasi daerah yang dihasilkan
tidak sekadar menjadi formalitas di atas kertas, tetapi memiliki standar
kualitas yang tinggi, keberlanjutan yang terjamin, serta memberikan dampak
nyata (impactful) bagi pembangunan daerah dan pelayanan publik.
Tity Iriani Datau selaku Kepala Bidang
Penelitian dan Pengembangan dalam penjelasan materi dan teknis penilaian
menyampaikan bahwa peserta dalam kegiatan ini sebanyak 13 Inovasi yang berhasil
memenuhi 20 syarat indikator, yang di
persyaratkan dalam aplikasi Innovaitve Government Awards (IGA) Tahun 2026 Oleh
BSKDN Kemendagri yaitu inovasi dari Dinas Kesehatan, PP dan KB sebanyak 7
inovasi, Dinas Penanaman Modal PTSP sebanyak 2 inovasi, Bappeda Provinsi
Gorontalo 1 inovasi, Badan Keuangan dan Aset Daerah 1 inovasi, Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan sebanyak 2 inovasi.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi
Gorontalo. Dalam sambutannya, menekankan pentingnya mentransformasikan cara
kerja birokrasi melalui inovasi yang berkelanjutan. "Mari kita jadikan inovasi
sebagai budaya kerja, sebagai instrumen untuk meningkatkan kinerja
pemerintahan, dan sebagai wujud tanggung jawab kita kepada masyarakat
Gorontalo," ujar Sofian Ibrahim di hadapan para peserta dan tim penilai.
Sekda juga menambahkan bahwa peluang untuk berinovasi sebenarnya
terbuka sangat lebar di lingkungan pemerintahan jika para aparatur peka
terhadap tanggung jawabnya. "Inovasi itu dimulai dari tugas dan fungsi
kita sehari-hari. Munculkan banyak pertanyaan dari hambatan yang ada, lalu dari
sana akan ditemukan satu inovasi yang tepat untuk memperlancar dan
menyelesaikan setiap permasalahan pelayanan," pungkasnya.
Melalui penilaian Inovasi Daerah Awards 2026 ini, Pemerintah
Provinsi Gorontalo berharap dapat melahirkan terobosan-terobosan baru yang tidak
hanya mempermudah kinerja birokrasi, tetapi secara nyata mampu mendongkrak
kesejahteraan masyarakat dan membawa Gorontalo menuju kemajuan yang
berkelanjutan.
#HUMAS
BAPPEDA PROVINSI GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo terus mematangkan kerja sama internasional dengan Ehime Prefecture, Jepang, di sektor pertanian. Langkah terbaru diwujudkan tanggal 15 Oktober 2026 melalui pertemuan virtual yang difasilitasi oleh Bappeda Provinsi Gorontalo dan mempertemukan tenaga ahli dari Jepang dengan perwakilan kelompok tani, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta Fungsional terkait Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo.
Pertemuan intensif ini fokus pada agenda krusial yaitu finalisasi
kalender budidaya padi dan penyusunan manual book (buku panduan) pengendalian
hama. Sinergi ini diharapkan mampu mengadopsi teknologi pertanian canggih
Jepang yang disesuaikan dengan kondisi lokal Gorontalo demi mendongkrak
produktivitas dan kualitas pangan.
Tity Iriani Datau selaku kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan
saat membuka kegiatan ini menyampaikan bahwa dalam kerjasama ini transfer pengetahuan fokus pada metode
budidaya padi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Melalui kalender budidaya dapat menjadi panduan waktu
tanam yang disesuaikan secara ilmiah untuk meminimalkan risiko gagal panen
serta panduan taktis bagi petugas POPT dan petani untuk mendeteksi serta
menangani hama ancaman penyakit blast, penggerek batang, dan tikus secara cepat
dan aman
Dokumen strategis tersebut ditargetkan rampung dan diserahkan kepada Gubernur Gorontalo pada Desember 2026. Dalam kesempatan tersebut, Tenaga ahli dari Ehime Prefecture, Mr Inari menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kolaborasi aktif tim Gorontalo selama proses penyusunan. Mereka berharap dokumen panduan ini tidak hanya menjadi arsip administratif, melainkan benar-benar menjadi instrumen praktis yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para petani di lapangan. Dengan begitu, transfer teknologi ini dapat langsung berdampak pada peningkatan produktivitas, penurunan gagal panen, dan kesejahteraan petani Gorontalo secara berkelanjutan.
GORONTALO – Mengurus dokumen kependudukan, terdata dengan baik, hingga ikut menyuarakan kebutuhan dalam perencanaan pembangunan. Inilah beberapa hal yang ingin dipermudah bagi penyandang disabilitas di Gorontalo lewat Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas (RAD PD) 2026–2029. Rencana ini dimatangkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo dalam pertemuan konfirmasi target dan kegiatan pada Selasa (13/10/2026).
Pertemuan tersebut menghadirkan sejumlah dinas dan lembaga di daerah serta instansi vertikal, antara lain KPU, Bawaslu, Kementerian Agama, dan Kementerian Haji dan Umrah. Masing-masing diminta memastikan bahwa target dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya realistis dan dapat dijalankan hingga 2029. Kegiatan yang dibahas, misalnya, layanan administrasi kependudukan, pelatihan inklusi bagi petugas layanan haji, umroh dan pelaksana pemilu, pengembangan sistem data terpadu, serta pelibatan penyandang disabilitas dalam forum perencanaan seperti Musrenbang.
Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Athar Katili, menegaskan dukungannya. “Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang bisa dirasakan semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Lewat RAD ini, setiap dinas dan instansi punya target yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kami mendukung penuh, dan yang terpenting, hasilnya harus terasa langsung oleh masyarakat,” tuturnya.
Penyusunan RAD PD merupakan inisiatif Bappeda Provinsi Gorontalo yang didukung oleh Program SKALA, sebagai tindak lanjut dari Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2023 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Hasil pertemuan ini akan menjadi bahan penyempurnaan draf Peraturan Gubernur tentang RAD Penyandang Disabilitas sebelum ditetapkan.
Bappeda mengajak masyarakat, organisasi penyandang disabilitas, dan media ikut mengawal pelaksanaannya agar Gorontalo semakin inklusif bagi semua.